(Sebuah Teropong Gerak Mahasiswa Makassar)
Mahasiswa telah ada sejak Bangsa dan Negara ini mulai mengusung tentang betapa pentinggnya sebuah Kemerdekaan.
Mahasiswa yang di bentuk oleh jiwa pemuda dan pemudi berjuang dan membentuk
berbagai organisasi, sebagai bagian mengakomodir gerak serta keinginan yang
menggelora. Seiring berjalannya waktu pemuda dan pemudi hari ini tidak
mampu dipisahkan dengan mahasiswa begitupun sebaliknya.
Mahasiswa yang lebih kita kenal
adalah seseorang yang menjalankan pendidikan di salah satu perguruan tinggi
atau universitas. Sedangkan Pemuda merupakan bagian dari seseorang yang
menyandang nama sebagai mahasiswa. Dengan kata lain mahasiswa sudah menjadi
bagian dari pemuda, sedangkan seorang pemuda belum tentu menjadi seorang
mahasiswa. Hal ini disebabkan perubahan dari masa orde lama menuju orde baru
hingga pada masa reformasi yang kita agungkan hari ini membuat Negara dan Bangsa lebih mendewakan sebuah sistem yang pada akhirnya berdampak kepada
masyarakat yang tidak semuanya merasakan fasilitas utamanya pendidikan.
Meskipun tidak bisa kita pungkiri bersama, bahwa pemerintah hari ini sudah
lebih berupaya dalam mengeluarkan program-program yang berbasis kepada
masyarakatnya.
Dalam perkembangan mahasiswa menapak
tilas beberapa organisasi kepemudaan sangat jelas bahwa peran serta eksistensi
mahasiswa sangat prommordial. Mulai dari Budi Utomo menggelegar di Surabaya,
R.A Kartini mengangkat derajat wanita, hingga terbentuknya organisasi
kepemudaan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), dan berbagai
organisasi-organisasi lainnya. Di Lain hal Pemuda melakukan perjalanan panjang
terhadap Negara ini, sebagai bukti jelas ketika detik-detik Proklamasi pada
Agustus 1945. Beberapa pemuda mendatangi kediaman Bung Karno yang kemudian
menghasilakan peristiwa Rengas Dengklok (merupakan peristiwa penculikan Bung
Karno untuk mengamankan cita-cita pemuda terhadap Kemerdekaan, dimana kemudian
tempat yang menjadi pengamanan adalah kerawang. (sumber sejarah , 1945).
Pada sisi lain di wilayah timur
Negara Republik Indonesia mengadakan peroses panjang untuk membentuk gerakan
yang mampu didengar oleh seluruh wilayah tumpah darah Indonesia, mampu termanifestasikan
oleh kalangan yang berada di wilayah pusat Negara. Mahasiswa Indonesia wilayah
timur megakui bahwa sejarah bangsa membuktikan dengan slogan ‘Bhineka Tunggal
Ika’ hanyalah sebuah slogan yang mengamankan beberapa kaum yang berkedudukan di
wilayah pusat. Sangat jelas kaum pemuda kemudian bersikeras keluar dari wilayah
Indonesia, yang semua itu diakibatkan kemerataan yang tidak kondusif.
Meninggalkan sejarah, kini
mengembangkan desas-desus gerakan mahasiswa di wilayah Makassar seolah tak ada habisnya.
Iya gerakan mahasiswa yang pada umumnya mencoba untuk di hentikan secara
perlahan-lahan. Namun menjadi keanehan sosok yang telah berusaha membangun
gerakan berpuluh – puluh tahun yang lalu malah berusaha manjadi pembentuk alur
skenario mahasiswa dalam tirani di hari ini. Mengingat pesan salah satu dosen
kampus “sejauh mana idealisme akan kamu jaga?".
Melanjutkan cerita tentang mahasiswa
yang saya pahami melalui beragai buku referensi dan kejadian-kejadian di
berbagai kampus, menjadi mahasiswa tidak seperti siswa. Apabila pada awalnya
menjadi siswa itu bagaimana kita memahami diri ini. Maka menjadi mahasiswa
lebih dari itu, yakni bagaimana memahami orang lain. Sistem apalagi, menjadi
siswa kita akan dibimbing sepenuhnya oleh guru selaku tenaga penidik. Sedangkan
menjadi mahasiswa kita harus bias menempatkan diri ini sebagai seseorang yang
mencari ilmu, yang tidak hanya berpaku terhadap dosen. Tetapi dengan aktif
diberbagai seminar dan bergabung di berbagai organisasi. Ini semua menyangkut
tentang mahasiswa sebagai Agent Of Change.
Yaitu mahasiswa yang berperan sebagai bagian kontrol akan kebijakan
pemerintah yang kemudian mampu dengan baik disampaikan kepada masyarakat,
maupun sebaliknya. Selanjutnya sebagai bagian sosial dimana seorang mahasiswa
harus mampu menempatkan dirinya pada semua aspek masyarakat dengan cara dan
sikap yang mudah untuk dimengerti dan santun. Lebih jelas peran serta kedudukan
mahasiswa dijelaskan didalam Tri Dharma
Perguruan Tinggi, yaitu tiga pengaplikasian seorang mahasiswa. Diantaranya
:
1. Pendidikan; Dimana mahasiswa sebagai
kaum intelektual diwajibkan untuk mampu berfikir sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan. Yang pada akhirnya mampu meningkatkan mutu serta kualitas
bangsa, dengan cara pemikiran-pemikiran rasional oleh para mahasiswa bukan pada
penekanan otot.
2.
Penelitian
dan Pengembangan; Ilmu yang telah di pahami kemudian mampu untuk diaplikasikan
sesuai dengan takaran dan kebutuhan. Yang mengedepankan terhadap pertanggung
jawaban dan keseriusan, berupa softskill,
ilmiah, akademis, serta kritis.
3. Pengabdian Terhadap Masyarakat; Merupakan upaya mahasiswa didalam menjabarkan secara nyata dan real ilmu serta
analisa terhadap masyarakat yang begitu kompleks. Bukan hanya bagaimana
memberikan saran namun juga mampu memberikan bimbingan secara bertahap kepada
masalah yang dihadapi. (pemerintah
terhadap mahasiswa).
Semuanya sudah jelas peran serta
pendasi mahasiswa didalam melakukan gerakan, dimana aturan yang keluar dari
menteri pendidikan yang bernaung dibawah pemerintahan bangsa dan Negara. Namun
pada kenyataannya sejak pelengseran Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998, yang
mana telah mengukir sejarah untuk anak-anak bangsa yang kali ketiga, setelah
tahun 1945 dan 1966. Malah menjadikan mahasiswa secara titahnya harus dibuatkan
kontruksi aturan yang semakin mengikat. Iya sebuah bukti nyata bahwa
pemimpin-pemimpin yang besar harus dilengserkan oleh mahasiswa bersama dengan
masyarakat. Hingga kita tak sadar bahwa hasil gerakan selama ini telah
mengantarkan kita pada slogan yang lazim kita dengar yaitu masyarakat madani (masyarakat yang berpradaban), (Colek UINAM)
Kembali kepada mahasiswa Makassar,
dampak dari aturan pemerintah tentang larangan Orientasi Pengenalan Akademik
Kampus (OPAK). SK Dirjen Dikti no. 3120/D/T/2001. “Penegasan Tentang larangan Ospek”. Hal tersebut dilandasi bahwa
kegiatan ospek merupakan kegiatan yang berdampak negative, berupa : pelecehan,
pemerasan, pemaksaan, serta cidera yang berdampak pada pelanggaran hak asasi
manusia (HAM). Serta melegitimasi kericuhan – kericuhan yang diakibatkan oleh
mahasiswa di sepanjang gerakan. Akhirnya berdampak pada seluruh aktifitas yang
membangun, kritis, serta kegiatan yang menjadi keseharian mahasiswa
sedikit-demi sedikit dihentikan, secara naluri itu tak menjadi masalah. Akan
tetapi sejatinya mahasiswa diajak untuk tunduk dan patuh pada aturan yang mana
aturan tersebut malah membuat visi dan misi mahasiswa itu tak berguna lagi.
Mengangkat contoh di UIN Alauddin Makkassar sebagai salah satu kampus diwilayah
Makassar ada hal yang mampu kami baca, bahwa surat yang kemudian beredar dari
Dirjen Dikti mengakibatkan puncak gerakan 2009 kegiatan pengenalan dunia kampus,
OPAK untuk UIN Alauddin Makassar itu dihentikan. Bereda kampus maka beda
cerita. Penulis tidak jauh menjabarkan kamups lain yang jelas ada beberapa
dampak yang diakibatkan atas surat keputusan tersebut kepada seluruh kampus
pada umumnya dan mahasisswa pada khususnya. Selanjutnya kegiatan mengakibatkan
beberapa kampus tidak lagi melakukan kegiatan didalam kampus (maksudnya
sepenuhnya kegiatan terkontrol oleh pihak birokrasi kampus yang memberi waktu
masksimal sampai jam 10.pm. lebih dari itu maka mahasiswa siap perang dengan
pihak pengamanan kampus. Yang menjadi keanehan hanya sebagian kampus diwilayah
Makassar yang mendapatkan hal tersebut. Ini adalah bagian dari rekontruksi
mahasiswa yang berada dalam tirani.
Untuk mengambarkan bagaimana
mahasiswa Makassar yang secara titahnya berada dalam tirani adalah: kita mampu
melihat berbagai pemberitaan di media-media, kita angkat saja media televisi
saat memberitakan mahasiswa yang berada di wilayah timur ini dengan
mengutamakan kegiatan-kegiatan yang condong terhadap anarkisme, brutal,
pembajakan, dan lain-lain. Seolah-olah mahasiswa Makassar tidak mengenal lagi
terhadap etika , moral, sopan, serta menghilangkan jati diri kedaerahan yang
menjunjung adat siri (kenal malu).
Akhirnya puncak fatal yang penulis kenal saat kegiatan bina akrab (kegiatan yang mempertemukan senior dan mahasiswa baru
beserta ketua jurusan dan perangkatnya dan hinpunan jurusan beserta jajarannya)
harus di larang oleh kampus. Dalam hal ini yaitu UIN Alauddin Makassar. Dengan
penegasan surat edaran Nomor : Un. 06.1/PP.00.09/1235/2013. Tentang
larangan membawa mahasiswa baru keluar dari kampus dalam bentuk apapun terlebih
kegiatan bina akrab. Alasan ini disebabkan banyaknya orang tua siswa yang
melapor terhadap pihak kampus, karena anaknya yang meniggakan rumah. Yang
menjadi pertanyaan kemudiaan dimana peran mahasiswa pada akhirnya dalam
menegakkan tri dharma perguruan tinggi. Yang
pada tahap selanjutnya sebagai agent of
cheng, social,control. Inilah bukti nyata hari ini bahwa mahasiswa berada
didalam tirani, yang ssangat memprihatinkan yang dapat dikategorikan La Yamut Fiha Wa La Yahya ( setengah
mati dan setengah hidup ). Padahal pada segala aspek, kita tidak bisa pungkiri
mahasiswa sangat berpengaruh. Hari ini mahasiswa hanya disibukkan dengan tugas
yang pada proses perkuliahan mereka malah semakin bingung, untung lagi ketika
dosen mampu membaca kondisi mahasiswa. Namun ketika semuanya tak mampu menjadi
perhatian maka, sangat benar kita sebagai pelanjut bangsa hanya diajarkan untuk
patuh dan lebih dekat dengan ketiak pimpinan. Kampus bagi penulis merupakan
Negara dan bangsa dalam konteks kecil. Dimana jelas suara adalah mahasiswa dari
mahasiswa dan untuk mahasiswa. Namun ketika mahasiswa tak mampu menganalisa
dengan baik bisakah kita menjamin nilai yang kita peroleh nantinya benar merupakan
hasil dari buah dan kemampuan kita. Atau hanya di bentuk dari copy-paste yang instan sesuai dengan
jalan – jalan para pemerintah memperkaya dirinya.
Selanjutnya menjadi glitik buat
penulis terhadap sebagian mahasiswa yang berada didunnia kampus, dengan
kesadaran membaca buku serta kajian yang mulai hilang mengakibatkan seajatinya
mahasiswa semakin dicap oleh para masyarakat yang hanya mengenal tentang demo
tanpa bekal yang jelas. Yang pada gerakan akhirnya dijual dan terlihat gerakan
parakmatis. Tirani yang penulis maksud merupakan sebuah hambatan besar dalam
hal ini gerak serta kenijakan mahasiswa didalam mengambil sebuah kebijakan.
Yang pada akhirnya menggurangi cita, sikap, serta jati diri sebuah mahasiswa.
Hal ini disebabkan kondisi mahasiswa itu sendiri dalam menyikapi setiap
kejadiaan atau factor luar yang berusaha mengkate gerakan dari mahasiswa.
Akhirnya mahasiswa harus mampu dan
cerdas melihat bagaimana gerakan hari ini harus kita mulai dengan cara yang
mank sesuai dengan kondisi sekarang. Atau apakah mank tidak ada lagi peluang
buat mahasiswa untuk berperan dalam tiga pilarnnya?. Benarkah kita hanya akan
melihat tirani ini mengakar disetiap gerakan mahasiswa. Ada hal yang yang
menarik untuk semua anak bangsa utamanya mahasiswa dalam melihat kondisi riil
Negara dan bangsa ini, yaitu minimal menempatkan masalah pada proporsinya. Di
mana setiap masalah tidak berarti (dipatok mati) membawa indicator yang
negatif. Akan tetapi , dari masalah itu pula terkadang menghasilkan sebuah
solusi bagi kelangsungan hidup buat Negara yang berkembang ini. Dan penentunya
jelas para pemuda yang di nahkodai oleh para mahasiswa selaku agen perubah yang
bersama kita mampu menjadi park of
solution dan bukan menjadi park of
problem. Mahasiswa harus mengkontruksi gerakan hari ini, karena yang
menjadi hambatan besar kali ini adalah mampu menhasilkan gerakan yang baru
(merefresh) gerakan yang dibangun oleh beberapa senior terdahulu. Yang hari ini
telah lupa tehadap asal mereka yang besar dari proses yang panjang. Namun apa
daya hari ini kamipun tak ada tanpa hasil dari mereka. Sekali lagi kita mampu
untuk merobohkan tirani- tirani mahasiswa khususnya dimakassar dan para
sahabat, saudara, pergerakan, di Negara dan bangsa pada umumnya. Beberapa hari
yang lalu, hari pahlawan baru saja dirayakan melalui semangat dan perjuangan
mereka mari kita lanjutkan perjuangan mereka dengan menggunakan pola dasar kita
selaku mahasiswa. Beberapa bulan yang lalu semangat Proklamasi baru kita
dengunkan sebelumnya hari kemerdekanpun kita rayakan. “Ingatlah orang besar
akanmelalui proses yang panjang”.
Sekali lagi kontruksi awal untuk
merobohkan tirani ini tetap menjaga para saudara kita untuk tetap menghidupkan
kajian, seminar serta aturan siri (rasa malu). Selanjutnya kuasai beberapa
organisasi dengan bekal yang mank layak untuk menjadikan pihak pimpinan tak
mampu menyarang balik. Yang terpenting nilai dan absensi kampus jangan pernah
terlupakan karena hari ini untuk dua hal tersebut sangatlah mudah unutk diperoleh.
Saya rasa teman lebih tahu dengan kondisi beberapa kampus sekarang. Selanjutnya
mari kita turun langsung terhadap masyarakat untuk memberi pemahaman ketika ini
melakukan gerakan, jangan merasa paling hebat karena yang ada kita mudah untuk
dipecahkan. Dan terakhir selalu menggunakan etika dan mora,l serta tetap
meskipun gerakan dan dunia ini keras iman tetep donk. Tuhan dalam hal pencipta
butuh waktu untuk kita porsirkan sebagai teman orasi. Akhirnya salam mahasiswa.
Jayalah selamanya.
Salah satu lembar buku melihat kampus dari Masa Pencarian Jati Diri .....
Afidatul Asmar
FDK-MD UINAM
Komentar
Posting Komentar